HMJ Sosiologi Agama Gelar Mubes

Gorontalo, 5 Maret 2023 – Musyawarah Besar (Mubes) HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo berlangsung sukses di aula Fakultas Ushuluddin & Dakwah. Mubes ini dihadiri oleh seluruh anggota HMJ Sosiologi Agama dan diadakan untuk memilih ketua dan pengurus baru periode 2023-2024.

Menurut pernyataan Ketua Panitia Pelaksana, Rifaldi S Daud, tujuan kegiatan Mubes HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo adalah untuk memilih pemimpin yang baru, dengan harapan dapat mengembangkan HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo ke arah yang lebih baik lagi. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai sarana untuk mengevaluasi kinerja pengurus yang lama.

Setelah melakukan pemilihan, Triono Karim terpilih sebagai ketua HMJ Sosiologi Agama periode 2023-2024. Dalam pernyataannya, Triono Karim mengatakan, “Saya sangat bersyukur dan siap untuk bekerja sama dengan semua anggota HMJ dalam memajukan HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo. Saya berharap kita dapat berkolaborasi dan menghasilkan karya yang baik untuk kepentingan HMJ dan almamater kita.”

Hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Jurusan Sosiologi Agama, Sunandar Macpal, MA, juga memberikan pernyataan, “Saya mengapresiasi semangat dan partisipasi dari semua anggota HMJ dalam kegiatan Mubes ini. Semoga pemimpin baru dapat membawa HMJ Sosiologi Agama ke level yang lebih baik lagi dan dapat menghasilkan karya-karya yang baik untuk kampus dan masyarakat.”

 

Dalam acara Mubes tersebut, juga dilakukan laporan pertanggungjawaban (LPJ) oleh Ketua HMJ periode 2022-2023, Muh. Niswan, yang dinilai sangat memuaskan oleh seluruh anggota HMJ. Dengan demikian, Mubes HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo sukses dilaksanakan dan diharapkan dapat membawa HMJ Sosiologi Agama ke level yang lebih baik lagi. (AKF)

Satu Abad NU: Sang Pendobrak Kejumudan Fikih Politik

Menyambut 1 Abad NU, dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai, Ahmad Khoirul Fata, membuat renungan kritis tentang kegiatan Halaqah Peradaban yang digelar NU. Catatan itu dimuat di alif.id. Berikut tulisan lengkapnya:

Catatan Penting Satu Abad NU: Sang Pendobrak Kejumudan Fikih Politik

Oleh:

Ahmad Khoirul Fata

Dosen Prodi. Sosiologi Agama

IAIN Sultan Amai Gorontalo

PBNU di bawah pimpinan Gus Yahya telah memulai langkah besarnya: menginisiasi Religion 20 di Bali beriringan dengan gelaran G-20 dan menggelar Halaqah Fikih Peradaban di seantero Indonesia. Forum R-20 mempertemukan tokoh-tokoh agama negara-negara G-20 dengan tujuan menjadikan agama sebagai bagian dari solusi bagi dunia.

Ini merupakan langkah “keluar” yang dilakukan NU untuk turut serta menciptakan perdamaian dunia. Sementara untuk “kedalam” umat Islam, PBNU menggelar Halaqah Fikih Peradaban. Gelaran ini telah dimulai di seantero Indonesia yang berpuncak pada Muktamar Internasional Fikih Peradaban di Peringatan 1 Abad NU di Sidoarjo.

Dalam pemaparannya di Halaqah Fikih Peradaban di Gorontalo bulan lalu, Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa pertemuan ini digelar karena kenyataan masih banyaknya umat Islam yang belum bisa menerima realitas politik modern yang berubah. Terdapat beberapa kelompok umat yang wacana politiknya terkerangkeng dalam nalar politik Islam era kekhilafahan Utsmani dan abad-abad sebelumnya. Mereka susah beradaptasi dengan dunia politik modern yang ada saat ini, bahkan sebagian darinya menolak institusi politik modern seperti demokrasi, nasionalisme, kedaulatan rakyat, dan sebagainya.

Dengan demikian, Halaqah & Muktamar Fikih Peradaban merupakan upaya “kedalam” untuk menyiapkan umat Islam memasuki dunia modern dengan nalar politik baru berbasis kaidah fikih. Tulisan ini mencoba mengungkap urgensi forum Fikih Peradaban tersebut bagi umat Islam kontemporer.

Dari Krisis ke Transformasi

Kegamangan umat Islam saat ini tidak lepas realitas historis yang panjang, di mana Islam menjadi kekuatan politik dominan di masa lalu dengan segala superioritasnya. Di era modern Barat mulai pasang naik dengan segala superioritasnya, sementara Dunia Islam justru mengalami arus surut peradaban. Kolonialisme Barat atas Timur (Dunia Islam) dan pembubaran Khilafah Utsmani di awal abad ke-20 menimbulkan krisis hebat di Dunia Islam. Tiba-tiba keadaan terbalik: Barat superior dan Islam inferior.

Kondisi ini disebut Azyumardi Azra (2016) sebagai “masa terjadinya krisis terberat dalam sejarah peradaban Islam.” Selain karena kondisi umat Islam yang sedang sakit, krisis tersebut juga disebabkan oleh benturan dengan negara-negara Barat yang menyebabkan dunia Islam terjatuh dalam jurang imperialisme dan kolonialisme. Dampak lanjutannya ialah munculnya krisis identitas di kalangan umat Islam.

Barat menyebarkan peradaban mereka ke seluruh dunia melalui globalisasi dan kolonialisasi. Tujuannya adalah homogenisasi tradisi dan kebudayaan yang berbeda di seluruh dunia, serta hegemoni mereka atas Timur (Ejaz Akram, 2004). Akram pun melihat globalisasi telah mengakibatkan kerusakan yang sistematis pada lembaga-lembaga tradisional di negara-negara non-Eropa.  Proses ini, tegas Bassam Tibbi (2009), membawa luka abadi pada umat Islam, yang di kemudian waktu diartikulasikan dalam berbagai aksi politik dan kekerasan sebagai sebentuk respon pertahanan-budaya (a defensive-cultural response).

Peradaban Barat modern itu dianggap asing dan tidak memiliki akar sejarah bagi umat Islam. Umat Islam, jelas Azra, sejak dulu sudah akrab dengan konsep dar al-Islam dan dar al-harb, namun kemudian dibingungkan dengan konsep nation state ala Barat. Sebagai sesuatu yang asing konsep politik Barat itu dianggap Akram telah merusak tatanan kelembagaan politik tradisional, memecah belah kesatuan umat, menyebabkan terjadinya desakralisasi dan amoralisasi proses politik, evolusi ke negara bangsa yang mengancam keamanan dunia Islam, dan munculnya problem demokrasi di dunia Islam.

Di tengah situasi krisis ini muncul beberapa pemikir dengan ide-ide yang berbeda: al-Kawakibi menyerukan nasionalisme Arab, Muhammad Ali Pasha mempelopori nasionalisme Mesir, sedangkan nasionalisme Turki disuarakan oleh Namik Kemal dan Zia Gokalp. Di kalangan pemikir Arab yang beragama Kristen juga muncul gagasan nasionalisme Arab yang dibangun di atas akar sejarah pra-Islam.

Selain gagasan nasionalisme, juga muncul gagasan Pan-Islamisme dengan tokohnya: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Munawir Sjadzali menyebut ketiga tokoh tersebut sebagai penggerak salafisme baru dengan ide utama satu ikatan politik umat Islam dalam bentuk Pan-Islamisme. Bukan hanya ide, upaya merevitalisasi institusi kekhilafahan juga pernah dilakukan melalui Kongres Khilafat di Mesir dan Hijaz, namun semua upaya gagal. Salah satu sebabnya adalah ego masing-masing pemimpin negara Arab untuk menjadi khalifah baru.

Meski demikian, pada momentum yang penuh ketegangan itu telah terjadi transformasi dalam pemikiran politik Islam modern, dengan mulai diperkenalkan konsep “negara Islam” sebagai alternatif pengganti bagi negara khilafah. Tokoh yang dianggap sebagai teoritisi awal “negara Islam di era modern” adalah Rasyid Ridha (w. 1935).

Ridha melakukan transisi yang halus dari khilafah ke negara Islam. Dia menggunakan nomenklatur yang terasa baru dalam dunia modern dan terkesan paradoks, yaitu al-dawlah atau al-hukumat al-Islamiyyah. Pada era sebelum itu sudah mashur istilah khilafat atau imamat untuk menyebut negara atau pemerintahan. Menurut Hamid Enayat (2001), upaya Ridha itu tidak lepas dari keinginannya untuk mereorganisasi khilafah, namun di saat bersamaan dia juga menginginkan sebuah entitas baru yang secara institusi dan fungsi belum ada sebelumnya.

Ada dua tujuan yang ingin dicapai Ridha: 1). Prinsip kedaulatan rakyat; 2). Membuka kemungkinan membuat hukum buatan manusia. Tujuan pertama bisa dilakukan dengan syura antara penguasa dengan rakyat, di mana ulama ditempatkan sebagai perwakilan rakyat Sedangkan tujuan yang kedua dilakukan melalui ijtihad. Di sini Ridha menempatkan syariah sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk menolak qanun (hukum positif). Jika terdapat pertentangan antara qanun dengan syariah, maka syariah yang dibenarkan karena qanun merupakan subordinat dari syariah.

Belum Selesai

Meski Ridha telah berupaya menawarkan konsep “al-Dawlah/al-hukumat al-Islamiyah” sebagai institusi politik Islam di era modern, dan pemikir-pemikir lain menawarkan negara kebangsaan, namun tawaran itu tidak disambut dengan tangan terbuka oleh umat Islam. Terdapat beberapa kelompok Islam yang terus memimpikan kembalinya institusi politik “khilafah”, baik dengan cara yang soft dan damai semacam Hizbut Tahrir, maupun yang ekstrem seperti ISIS.

Sedangkan, sebagian besar umat Islam yang bisa menerima institusi politik modern pun tampak masih canggung hidup dalam institusi “negara bangsa”. Dalam institusi negara modern misalnya, dikenal konsep kewarganegaraan yang tidak didasarkan pada identitas komunal. Konsep seperti ini tidak dikenal dalam kosakata fikih siyasah yang dipegangi umat Islam dari dulu hingga kini. Negara modern pun mengenal batas-batasnya yang tegas, berbeda dengan negara Islam model lama (khilafah) yang batas-batas negaranya tidak terdefinisikan secara jelas.

Dengan kenyataan inilah, maka upaya PBNU untuk menggelar Halaqah Fikih Peradaban layak diapresiasi sebagai ikhtiar untuk melanjutkan upaya yang telah dirintis oleh Rasyid Ridha dulu. Di sisi lain, upaya itu juga menandai NU telah “pindah jalur”, dari semula menyelam dalam politik praktis masuk ke jalur yang lebih menusuk ke masalah utama umat Islam, krisis peradaban.   Allahu a’lam.

Kuliah Lapangan, Mahasiswa Sosiologi Agama Kunjungi Masjid, Gereja dan Vihara

Gorontalo, 15 Januari 2023 – Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, mengikuti kuliah lapangan matakuliah Antropologi Agama di bawah bimbingan Dr. Mashadi, M.Si.

Dalam kuliah lapangan ini, mahasiswa diberikan tugas untuk mengunjungi dan mengamati tempat-tempat ibadah di Kota Gorontalo, seperti masjid Baiturrahim, vihara, dan gereja-gereja, serta mewawancarai tokoh-tokoh setempat.  Tugas ini dilaksanakan pada periode November 2022 hingga Januari 2023. Di sana mereka belajar mengenal sejarah, sistem kepercayaan, dan ritual-ritual di setiap  agama yang dikunjungi.

Salah satu mahasiswa yang mengikuti kuliah lapangan ini adalah Nurtia Kango, ia merasa senang dengan tugas ini karena ia dapat belajar langsung tentang keberagaman agama di Kota Gorontalo. “Saya sangat senang dapat mengikuti kuliah lapangan ini karena dapat melihat dan mempelajari langsung keberagaman agama di Kota Gorontalo,” ujar Nurtia Kango.

Awaludin Hubu, mahasiswa lainnya, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama di Kota Gorontalo. “Saya merasa bersyukur dapat mengikuti kuliah lapangan ini karena dapat memperdalam pengetahuan saya tentang agama di Kota Gorontalo dan dapat bertemu dengan tokoh-tokoh setempat,” kata Awaludin Hubu.

Dalam kuliah lapangan ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh setempat yang memiliki peran penting dalam agama di Kota Gorontalo. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memahami lebih dalam tentang agama dan kepercayaan yang ada di kota tersebut.

Dr. Mashadi, M.Si, selaku dosen pembimbing kuliah lapangan ini mengungkapkan, “Kuliah lapangan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami secara langsung tentang keberagaman agama di Kota Gorontalo. Dengan mengunjungi tempat-tempat ibadah dan bertemu dengan tokoh-tokoh setempat, mahasiswa dapat memperdalam pemahaman mereka tentang agama dan kepercayaan di daerah ini.”

Diharapkan dengan kuliah lapangan ini, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang agama dan kepercayaan di Kota Gorontalo dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. (AKF)

 

Dosen Sosiologi Agama Terima Dana Hibah Penelitian dari LPDP-Kemendikbudristekdikti

Dosen Sosiologi Agama Terima Dana Hibah Penelitian dari LPDP-Kemendikbudristekdikti

Gorontalo, 23 Desember 2022

 

Dosen Program Studi Sosiologi Agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, Sunandar Macpal, MA,  berhasil lolos sebagai penerima dana hibah penelitian sebesar Rp. 250 juta dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristekdikti). Pengumuman keluar pada Agustus 2022 lalu.

 

Sunandar Macpal  memimpin tim peneliti yang terdiri dari dosen dan peneliti dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Universitas Indonesia (UI) Jakarta, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting bagi pemahaman tentang kebudayaan dan sejarah masyarakat di daerah perbatasan Indonesia.

Sunandar Macpal mengajukan proposal penelitian tentang tradisi lisan di daerah perbatasan Indonesia dengan lokasi penelitian di Sangihe, Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Filipina Selatan. Proposal penelitiannya berfokus pada studi etnografi tentang berbagai bentuk tradisi lisan di daerah perbatasan dan bagaimana bentuk-bentuk tradisi lisan tersebut berkembang serta terpengaruh oleh keadaan lingkungan sosial budaya dan politik yang ada di daerah perbatasan.

“Saya sangat bersyukur dan merasa terhormat dapat menerima dana hibah penelitian dari LPDP-Kemendikbudristekdikti. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan penelitian ini dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di daerah perbatasan,” ungkap Sunandar Macpal, MA yang saat ini berada di Sangihe untuk penelitian.

Diharapkan dengan penelitian ini, akan diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kebudayaan dan sejarah masyarakat di daerah perbatasan Indonesia serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi lisan yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah tersebut. (AKF)

Penelitian Mahasiswa Sosiologi Agama dan PUSPOL: Perempuan Berperan Aktif Membangun Desa

Penelitian Mahasiswa Sosiologi Agama dan PUSPOL: Perempuan Berperan Aktif Membangun Desa

Bone Bolango, 3 Desember 2022

Sebanyak 16 mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo terlibat dalam penelitian bertema “Peran Perempuan dalam Pembangunan Desa di Kab. Bone Bolango” pada November 2022. Mereka adalah Agilriadi Mantali, Muh. Iksan Darise, Muh. Niswan, Syahira Paputungan, dan Sri Rahmatia Hadju serta beberapa mahasiswa lainnya yang terpilih untuk bergabung dalam program penelitian ini.

Penelitian ini merupakan program dari Pusat Studi Sosial dan Politik (PUSPOL) yang dipimpin oleh Hendra Yasin, MA. sebagai direktur. Dalam penelitian ini, PUSPOL bertujuan untuk meneliti sejauh mana peran perempuan dalam pembangunan desa di Kab. Bone Bolango dan bagaimana pandangan masyarakat setempat terhadap keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa.

Dalam pemaparan hasil penelitian di kantor Bappeda Kab. Bone Bolango (3/12/2022), Hendra Yasin, MA. selaku direktur Pusat Studi Sosial dan Politik (PUSPOL), mengatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang peran perempuan dalam pembangunan desa di Kab. Bone Bolango. “Melalui penelitian ini, kami ingin memperkuat pandangan bahwa keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa di Bone Bolango sangatlah penting dan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Hendra.

Dalam penelitian yang dilakukan pada tanggal 19-30 November 2022 dengan metode stratified multistage random sampling, ditemukan fakta bahwa sebanyak 76,3 persen masyarakat Bone Bolango setuju perempuan terlibat aktif dalam pembangunan desa. Hendra menjelaskan, keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa di Bone Bolango memang telah terjadi, ini bisa dilihat dari banyaknya perempuan yang menjadi aparatur desa. Selain itu, banyak pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan penggerak kegiatan masyarakat di desa seperti tempat pengajian, majlis taklim atau taman pendidikan al-Qur’an yang diinisiasi oleh perempuan.

Melalui penelitian ini, PUSPOL berharap dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang peran perempuan dalam pembangunan desa di Kab. Bone Bolango dan menggali lebih dalam lagi potensi perempuan dalam memajukan desa. Selain itu, melibatkan mahasiswa sebagai peneliti juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari di kampus dan memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu sosial dan politik di Indonesia. (AKF)

Presentasi di Konferensi Internasional, Dosen Sosiologi Agama Sampaikan Pengembangan Taman Nasional Komodo

Presentasi di Konferensi Internasional, Dosen Sosiologi Agama Sampaikan Pengembangan Taman Nasional Komodo

Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo, Andi Oktami Dewi Artha Ayu Purnama, M.Si, menjadi presenter pada “The 1st International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication” yang diselenggarakan secara online oleh Universitas Negeri Padang pada tanggal 15 November 2022. Dalam konferensi ilmiah internasional tersebut, Andi Oktami mempresentasikan makalahnya tentang potensi sosial budaya untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar Taman Nasional Komodo.

Dalam presentasinya, Andi Oktami menyoroti pentingnya pemanfaatan potensi sosial budaya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Taman Nasional Komodo, yang terkenal dengan keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya. Ia menguraikan potensi sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat, seperti kesenian, adat istiadat, dan kearifan lokal, serta bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.

Prestasi Andi Oktami sebagai presenter pada konferensi internasional tersebut mendapat apresiasi dari Kaprodi Sosiologi Agama, Dr. Momy A. Hunowu, M.Si. Menurutnya, prestasi ini merupakan bukti dari komitmen dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam mengembangkan ilmu sosial dan keagamaan di tingkat internasional. Ia juga berharap agar makin banyak dosen dan mahasiswa Sosiologi Agama yang dapat mempresentasikan makalahnya ke tingkat nasional dan internasional.

Kontribusi Andi Oktami dalam bidang penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu sosial dan keagamaan serta kesejahteraan masyarakat sekitar Taman Nasional Komodo. Semoga keberhasilan Andi Oktami menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo untuk terus berprestasi dan menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. (AKF)

 

Dosen Sosiologi Agama Jadi Pemateri Workshop Penulisan di Pondok Pesantren Jawa Timur

 

Dosen Sosiologi Agama Jadi Pemateri Workshop Penulisan di Pondok Pesantren Jawa Timur

Gorontalo – 11 November 2022 – Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai, Dr. Ahmad Khoirul Fata, menjadi pemateri dalam workshop penulisan berita, opini, dan resensi untuk santri Ponpes Arraudlatul Ilmiyah (YTP) Banaran, Kec. Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Selasa-Kamis, 8-10 November 2022. Kegiatan ini diikuti oleh santriwan dan santriwati yang mengelola majalah dinding di pondok putra “Shoutu Ulin Nuha” dan di pondok putri “Shoutun Nisa'”.

Dalam workshop tersebut, Dr. Ahmad Khoirul Fata berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang cara menulis berita, opini, dan resensi yang baik dan benar. Ia juga memberikan tips dan trik untuk membuat tulisan yang menarik dan informatif. Peserta workshop juga diberikan kesempatan untuk berlatih menulis dengan bimbingan dari Dr. Ahmad Khoirul Fata.

Ketua Bidang Kesantrian Ponpes Arraudlatul Ilmiyah Kertosono, KH. Syaifullah Al-Ali, MSI menyambut baik kehadiran Dr. Ahmad Khoirul Fata sebagai pemateri dalam workshop penulisan ini. Ia menyampaikan terima kasih dan harapan para santri bisa menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan yang dapat di-publish melalui majalah dinding di pondok putra “Shoutu Ulin Nuha” dan di pondok putri “Shoutun Nisa'”. Ia juga berharap agar kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi para santri dalam mengembangkan kemampuan menulis yang baik dan berkualitas.

“Dr. Ahmad Khoirul Fata ini adalah salah satu alumni pondok Arraudlatul Ilmiyah yang jadi akademisi. Dia juga produktif menulis,” ujar KH. Syaifullah Al-Ali memotivasi para santri.

Peserta workshop sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Mereka bersemangat untuk mengasah kemampuan menulis mereka dan membagikan pemikiran dan gagasan mereka melalui tulisan. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu para santri dalam mengembangkan kemampuan menulis yang baik dan mendorong mereka untuk menjadi penulis yang berbakat dan berpengaruh. (SM)

Jelang Pemilu 2024, Mahasiswa Sosiologi Agama Lakukan Survei 

Jelang Pemilu 2024, Mahasiswa Sosiologi Agama Lakukan Survei

Bone Bolango, 6 November 2022

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo terlibat dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Curva Survey Indonesia (CSI) pada bulan November 2022. Survei tersebut bertujuan untuk meneliti “Persepsi dan Perilaku Masyarakat Menjelang Pemilu Serentak di Kab. Bone Bolango 2024”.

Sebanyak 16 mahasiswa Sosiologi Agama terlibat sebagai peneliti lapangan (surveyor) untuk mengumpulkan data penelitian di beberapa kecamatan di Kab. Bone Bolango. Mereka adalah Adrian Amantu, Farhan Abaidata, Sesilia Alifta Kapele, Rahman A. Ismail, dan Gustiyawati Pilomange serta beberapa mahasiswa lainnya yang terpilih untuk bergabung dalam proyek survei ini.

CSI merupakan lembaga survei yang fokus pada dinamika masyarakat di bidang politik dan sosial. Dalam survei ini, CSI memilih untuk melibatkan mahasiswa Sosiologi Agama sebagai peneliti lapangan dengan tujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam melakukan survei, apalagi  mereka juga telah belajar matakuliah Sosiologi Politik di kelas Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Ketika ditanya alasan memilih para mahasiswa Sosiologi Agama, Direktur CSI, Hendra Yasin, MA. mengatakan, “Kami berharap melalui proyek survei ini, mahasiswa Sosiologi Agama dapat belajar dan mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari di kampus. Selain itu, kami juga berharap proyek survei ini dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang persepsi dan perilaku masyarakat terhadap pemilu serentak di Kab. Bone Bolango pada tahun 2024.”

Dengan melibatkan mahasiswa sebagai peneliti lapangan, diharapkan survei ini dapat memberikan data yang akurat dan lebih representatif terhadap persepsi dan perilaku masyarakat dalam menyambut pemilu serentak di Kab. Bone Bolango pada tahun 2024.

Hendra Yasin juga menjelaskan, selain terlibat dalam survei tentang perilaku masyarakat jelang Pemilu 2024, para mahasiswa Sosiologi Agama itu juga dilibatkan dalam survei tentang peran publik perempuan di Kab. Bone Bolango. “Mereka telah mengenal medan Bone Bolango, jadi sekalian kami libatkan juga dalam survei lainnya,” jelas Hendra. (AKF)

 

Dosen Prodi Sosiologi Agama Uji Disertasi Mahasiswa UNHAS

Dosen Sosiologi Agama Uji Disertasi Mahasiswa UNHAS

Gorontalo, 28 Oktober 2022

Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Mashadi, M.Si, menjadi penguji disertasi mahasiswa S3 Antropologi Universitas Hasanuddin Makassar, Samsi Pomalingo, pada Jumat 28 Oktober 2022, di FISIP Unhas. Samsi Pomalingo meneliti dinamika gerakan Islam di Gorontalo dalam disertasi yang berjudul “Gerakan Kelompok Islam: Kontestasi Relasi Keagamaan di Gorontalo”.

Dalam disertasinya, Samsi Pomalingo mengkaji dinamika gerakan Islam di Gorontalo dan kontestasi relasi keagamaan yang terjadi di daerah tersebut. Disertasi tersebut merupakan hasil penelitian yang mendalam dan telah melalui proses pengujian seperti yang ditetapkan Unhas.

Dr. Mashadi sendiri merupakan salah satu ko-promotor dari promovendus tersebut, sedangkan ko-promotor lainnya adalah Dr. Muhammad Basir, MA. dan Promotor utama adalah Prof Nurul Ilmi Idrus, Ph.D.

Penunjukan Dr. Mashadi sebagai ko-promotor tersebut didasari oleh pertimbangan bahwa dosen Sosiologi Agama itu banyak meneliti sosio-religi masyarakat Gorontalo.

Sebagai penguji disertasi, Dr. Mashadi memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membangun dan kritis pada promovendus serta memberikan saran-saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Dr. Mashadi juga memberikan apresiasi terhadap hasil penelitian Samsi Pomalingo yang telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan ilmu antropologi dan kajian gerakan Islam di Gorontalo.

Proses penguji disertasi ini berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh sejumlah dosen dan mahasiswa FISIP Unhas serta dosen dan mahasiswa dari luar kampus. (AKF)

Agamawan Bertanggung Jawab Terhadap Kelestarian Alam

Agamawan Bertanggung Jawab Terhadap Kelestarian Alam

Gorontalo, 12 Oktober 2022

Sejumlah pakar dan praktisi lingkungan hidup memberikan paparan mengenai tanggung jawab agama terhadap kelestarian alam dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo bekerja sama dengan Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada Selasa (11/10).

Tiga pemateri diundang untuk memberikan paparan terkait tema seminar nasional, yaitu Ahmad Khoirul Fata, Dosen Sosiologi Agama IAIN Gorontalo, Parid Ridwanuddin, MA dari Walhi, dan Dr. Izzuddin dari IAIN Cirebon.

Pemateri pertama, Ahmad Khoirul Fata, Dosen Sosiologi Agama IAIN Gorontalo, membahas perspektif agama dalam menjaga kelestarian alam. Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa banyak agama di dunia mengajarkan untuk menjaga dan merawat

alam semesta sebagai amanah dari Tuhan. Oleh karena itu, tanggung jawab agama terhadap kelestarian alam sangat penting untuk dipahami dan dilaksanakan oleh umat manusia.

Pemateri kedua, Parid Ridwanuddin, MA dari Walhi, membahas tantangan dan solusi dalam menjaga kelestarian alam di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun sayangnya masih banyak terjadi kerusakan lingkungan dan ekosistem yang menjadi masalah serius bagi kelestarian alam. Ia juga memberikan beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan, seperti melakukan aksi nyata dan memperjuangkan hak lingkungan hidup.

Pemateri ketiga, Dr. Izzuddin dari IAIN Cirebon, membahas konsep tasawuf dan psikoterapi dalam menjaga kelestarian alam. Ia mengungkapkan bahwa tasawuf dan psikoterapi dapat membantu individu untuk menemukan keseimbangan dalam hidup dan mengembangkan sikap yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam.

Ketiga paparan para pemateri tersebut mendapat sambutan yang baik dari peserta seminar. Mereka menganggap materi paparan yang diberikan sangat penting untuk memberikan pemahaman dan wawasan yang lebih luas mengenai tanggung jawab agama terhadap kelestarian alam. Para peserta seminar pun berharap, paparan tersebut dapat dijadikan sebagai pijakan dalam pengelolaan lingkungan alam.