Siswa dan Mahasiswa di Gorontalo Mengikuti Sekolah Kebangsaan dalam Program Tular Nalar Bersama FUD IAIN Sultan Amai Gorontalo dan MAFINDO

 ” Sekolah Kebangsaan dalam Program Tular Nalar Menjadi Vaksin dalam Penyebaran Berita Hoaks”

Sebanyak 100 orang siswa dan mahasiswa di Kota Gorontalo mengikuti Sekolah Kebangsaan melalui program Tular Nalar yang dilakukan untuk membantu publik terkhusus generasi z dalam mengidentifikasi hoaks melalui literasi media dan pemikiran kritis. Kegiatan ini dihadiri oleh Kapolresta Gorontalo Kota Bapak Kombes Pol. Dr. Ade Permana, MH dan Ketua Bawaslu Kota Gorontalo Bapak Sukrin Saleh Taib, S.Ag, M.Fil.I.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo yang bekerjasama dengan MAFINDO (Masyarakat Antifitnah Indonesia). Dalam Sekolah Kebangsaan ini melibatkan 10 fasilitator dan 100 siswa dan mahasiswa yang berstatus sebagai pemilih pemula.

Dalam sistem pendidikan konvensional dinilai kurang menyediakan pembekalan yang cukup bagi pemilih pemula apalagi di era digital dan menjelang tahun politik ini mereka harus memiliki skill dan pengetahuan untuk mengarungi dunia digital secara efektif. Maka dengan program Tular Nalar ini akan menjadi vaksin untuk menangkal berita hoaks dengan kemampuan literasi digital.

Dalam Sekolah Kebangsaan ini diajarkan tentang alur pemilu yang sering dijadikan hoaks seperti apa dan bagaimana sistem demokrasi yang benar, bagaimana prosedur pemilu dan sanksi yang dikenakan dalam menyebarkan berata hoaks.

 

Tradisi Memaafkan Perspektif Derrida

Tradisi Memaafkan Perspektif Derrida

Sekretaris Jurusan Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sunandar Macpal, MA, memberikan pendapat tentang tradisi maaf-memaafkan yang lazim terjadi dalam perayaan Idul Fitri. Dalam hal ini Sunandar mengkaji tradisi memaafkan dalam perspektif Derrida.

Menurut Sunandar, pemikiran Derrida tentang maaf ditulis dalam buku “On Cosmopolitanism and Forgiveness” (2001) dan sebuah esai yang berjudul “To Forgive: The Unforgivable and the Imprescriptible” yang diterbitkan pada tahun yang sama.

Dalam kajiannya, Derrida menyoroti pernyataan yang dibuat atas nama negara yang bertujuan untuk rekonsiliasi, namun sebenarnya tidak sungguh-sungguh berupaya untuk memberikan maaf. Hal ini hanya berfokus pada kalkulasi politik. Derrida juga mengkritik pemikiran tentang maaf yang kerap bersyarat, seperti yang diungkapkan oleh Vladimir Jankélévitch dalam buku “Le Pardon” (1967) dan “L’Imprescriptible” (1971).

Menurut Jankélévitch, kejahatan yang dilakukan oleh Nazi tidak bisa dimaafkan karena pertama, mereka telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kedua, mereka tidak pernah meminta maaf. Kejahatan terhadap kemanusiaan berarti bahwa Nazi tidak hanya melakukan kejahatan terhadap individu, tetapi juga pada prinsip kemanusiaan itu sendiri.

Dalam pandangan Derrida, hal ini sejalan dengan pemikiran Hegel dan Arendt tentang mustahilnya memberikan maaf kepada mereka yang “mengkhianati sejarah”. Namun Derrida menantang pemikiran mereka dengan menawarkan “maaf yang tidak bersyarat”, yakni memberikan maaf pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dimaafkan (“maaf hanya bisa diberikan pada yang tidak termaafkan”).

Maaf semacam ini tidak mempertimbangkan kalkulasi politik atau pertimbangan transaksional. Dalam pandangan Derrida, maaf bahkan harus melampaui prinsip imperatif hipotesis (“jika saya melakukan ini… maka mungkin akan…”). Derrida mengakui bahwa “prinsip” maaf semacam ini akan menempatkan pelaku dan korban dalam situasi yang kompleks dan ambigu, namun di situlah makna maaf: keberadaan maaf terletak pada ketiadaan makna dan ketiadaan finalitas.

Dalam pandangan Derrida, memberikan maaf adalah tindakan yang “gila” di hadapan keimungkinan. Sehubungan dengan pemikiran Derrida, apakah kita akan memberikan maaf pada orang yang telah memperlakukan kita dengan buruk tanpa syarat apapun? Tentu saja hal ini sangat sulit, namun menurut Derrida, itulah tantangannya.

Tentang Elektabilitas Anas Urbaningrum, Begini Tanggapan Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo

 

Tentang Elektabilitas Anas Urbaningrum, Begini Tanggapan Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo

Akademisi dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra Muhammad Santoso, mengkritisi penyambutan yang dilakukan terhadap Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang baru saja keluar dari penjara. Anas sebelumnya didakwa terlibat dalam kasus mega korupsi Hambalang. Meskipun begitu, para pendukung Anas menyambutnya dengan gegap gempita seolah-olah dia seorang pahlawan. Bahkan dalam survei  SMRC April 2023 ini, elektabilitas Anas Urbaningrum menempati posisi di atas Ketua DPR RI Puan Maharani sebagai bakal calon presiden 2024.

Menanggapi hasil survei tersebut Eka Putra Santoso menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan pertanyaan destruktif tentang survei tersebut sebagai pesanan. Eka lebih memilih untuk melihat fenomena ini dari teori Moral Foundation yang dijelaskan oleh Jonatan Haidt dalam bukunya yang berjudul “The Righteous Mind” yang terbit pada tahun 2012.

Menurut teori Moral Foundation, manusia cenderung hidup dalam kelompok dan menilai moral dari segi estetika bukan prinsip. Selain itu, mereka cenderung mempertahankan nalar kolektif kelompok dan argumen yang dibahas bukan untuk mencari kebenaran. Dalam kasus Anas Urbaningrum, ia terindikasi mencoba membuat sketsa rasa keadilan yang cacat sehingga mempengaruhi logika publik tentang kasus yang menjeratnya. Hal ini juga ditambah dengan media yang memberitakan sosok Anas secara masif. Terkait dengan penyambutan Anas saat keluar dari penjara dan elektabilitasnya yang cukup tinggi sebagai capres, Eka Putra Santoso melihat gejala masyarakat kita saat ini mengalami masalah dalam hal evaluasi moral dan penilaian terhadap tindakan korupsi. (A

Tuntaskan Asesmen Lapangan, Prodi Sosiologi Agama Yakin Naik Peringkat

Tuntaskan Asesmen Lapangan, Prodi Sosiologi Agama Yakin Naik Peringkat

Gorontalo, 21 Maret 2023

Prodi Sosiologi Agama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo telah melakukan asesmen lapangan akreditasi Prodi oleh BAN-PT pada 20-21 Maret 2023 secara daring. Tim asesor terdiri dari Prof. Inayah Rohmaniyah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dr. Masril dari UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Selama dua hari, tim asesor mengkonfirmasi borang akreditasi yang telah disubmit oleh Prodi Sosiologi Agama tahun lalu. Kelengkapan dokumen akan menentukan hasil akreditasi nantinya.

Ketua  Prodi Sosiologi Agama, Dr. Momy A. Hunowu, M.Si, yakin prodinya akan naik peringkat dari baik ke baik sekali. Tapi untuk meraih unggul, Momy mengaku harus bekerja lebih keras lagi. “Sejak beberapa tahun lalu kami sudah menyiapkan diri. Tapi kan dalam akreditasi ini yang dinilai bukan cuma Prodi, tapi juga fakultas dan institut,” Jelasnya.

Prof Inayah menjelaskan, untuk menjadi unggul, semua elemen di kampus harus kompak dan bekerja keras menata lembaganya. Guru besar Sosiologi Agama UIN Yogyakarta ini mencontohkan, di kampusnya ketika ada satu prodi yang visitasi, maka semua pimpinan sejak dari rektor, warek, LPM, LP2M, dekan, wakil dekan, hingga kaprodi dan sekprodi di semua fakultas harus ikut hadir, minimal di pembukaan dan penutupan. Sedangkan Warek I dan LPM terus mendampingi tim akreditasi prodi sejak penyusunan borang hingga proses asesmen lapangan selesai.

“Di tengah kesibukannya, pak rektor itu selalu memantau jalannya asesemen. Sementara pak warek I, LPM, dekan, dan wadek I itu setiap saat berada di lokasi asesmen,” ujarnya.

Namun, Prof. Inayah mengaku heran ketika mengetahui dalam asesmen lapangan Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo ini hanya sedikit yang hadir. Khususnya saat penutupan hanya dihadiri 17 orang, itu pun hanya dari lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah saja. Pihak rektorat dan LPM tidak ada yang hadir.

“Di UIN Yogyakarta, kalau ada asesmen lapangan, yang hadir itu bisa ratusan. Karena di kami ditanamkan kesadaran bahwa kampus itu satu keluarga. Susah, senang, capek, sakit, bahagia harus dirasakan semua pihak. Kalau ada satu yang lagi susah, yang lain juga ikut merasakan,” tegas Prof. Inayah.

Hal serupa juga dinyatakan Dr. Masril. Dia menceritakan, Rektor UIN Batusangkar rela membatalkan perjalanan dinas demi mengikuti asesmen lapangan Prodi di kampusnya. “Karena memang akreditasi itu bukan semata tugasnya prodi saja, tapi juga tugas rektor dan warek-warek, LPM, LP2M, dekan, wakil dekan hingga prodi,” ujarnya.

 

Dr. Masril menjelaskan, dalam borang akreditasi bagian yang berkaitan dengan prodi hanya satu pertiga saja. Selebihnya merupakan bagian institut dan fakultas.

“Jangan berharap unggul kalau yang bekerja hanya prodi saja. Boleh jadi Prodi sudah bagus. Tapi kalau yang di atas kurang bagus ya hasilnya gak maksimal,” ungkap Dr. Masril. (ABCDE)

 

Jelang Assesmen Lapangan, Prodi. Sosiologi Agama Tancap Gas

Program Studi Sosiologi Agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi proses akreditasi prodi. Tim akreditasi prodi yang diketuai oleh Sunandar Macpal, MA bersama semua dosen homebase, telah menyiapkan dokumen untuk persiapan assessment lapangan yang akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 Maret 2023.

Menurut Kaprodi Sosiologi Agama, Dr. Momy A Hunowu, M.Si, akreditasi sangat penting untuk menunjukkan kualitas prodi. Oleh karena itu, prodi sosiologi agama menargetkan untuk naik peringkat dari “Baik” menjadi “Baik Sekali”. Seluruh dosen dan tim akreditasi prodi bekerja keras untuk memastikan bahwa persiapan akreditasi ini berjalan dengan lancar dan hasilnya akan memuaskan.

“Namun, jika dilihat dari potensi yang kami miliki, sangat mungkin Sosiologi Agama bisa dapat ‘unggul’,” ungkap Dr. Momy.

Dekan Fakultas Ushuluddin & Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Andries Kango, M.Ag, mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan oleh Program Studi Sosiologi Agama untuk meningkatkan akreditasinya. Ia berharap pelaksanaan visitasi lapangan menjelang bulan puasa akan menjadi berkah tersendiri bagi Sosiologi Agama.

Akreditasi prodi ini akan menjadi sebuah tonggak penting dalam sejarah Program Studi Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Seluruh dosen dan staf prodi bekerja keras untuk memastikan bahwa persiapan akreditasi berjalan dengan lancar dan hasilnya memuaskan. Semua pihak berharap agar prodi Sosiologi Agama dapat meraih peringkat “Baik Sekali” dan menjadi salah satu prodi terbaik di kawasan Sulawesi.  (AKF)

WISUDA JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA PERIODE I TAHUN AKADEMIK 2022/2023

Gorontalo, 7 Maret 2023. Wisuda dari Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo sebanyak 16 orang mengikuti prosesi wisuda Ke-31 Periode I Tahun Akademik 2022/2023 di Kampus 2 IAIN Sultan Amai Gorontalo. Senang dan bangga melihat mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama yang telah lulus menjadi Sarjana Sosiologi. Semoga sukses selalu menghampiri dan tetap jaga nama baik almamater.

Kaprodi Sosiologi Agama Akan Berikan Kuliah di UIN Alaudin Makassar

Gorontalo, 10 Maret 2023 – Ketua Program Studi Sosiologi Agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, Dr. Momy A. Hunowu, telah ditunjuk sebagai dosen kuliah tamu di Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar. Acara ini akan dilaksanakan pada 17 Maret 2023.

Penunjukan Dr. Momy A. Hunowu sebagai dosen kuliah tamu ini tertuang dalam Surat Keputusan Dekan Fakultas Ushuluddin & Filsafat Nomor 1348 Tahun 2023 Tanggal 7 Maret 2023. Dalam kuliah tamu yang bertema “Eksistensi Prodi sosiologi Agama dalam Kehidupan Masyarakat Multikultural” itu Dr. Momy A. Hunowu akan memberikan kuliah dengan materi tentang perempuan Gorontalo dalam balutan tradisi lokal.

Dr. Momy A. Hunowu merupakan salah satu dosen di Program Studi Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo yang memiliki kepakaran dalam studi  tradisi lokal Gorontalo. Ia pernah menulis beberapa artikel tentang tema sosial budaya Gorontalo di berbagai jurnal dan buku.

Menanggapi penunjukan sebagai dosen kuliah tamu, Dr. Momy A. Hunowu mengatakan, “Saya sangat senang dan terhormat bisa menjadi dosen kuliah tamu di UIN Alaudin Makassar. Saya berharap bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan mahasiswa serta mendapatkan perspektif baru dari mereka.”

Diharapkan dengan adanya dosen kuliah tamu ini, mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alaudin Makassar dapat memperoleh wawasan yang lebih luas tentang perempuan dan tradisi lokal di Gorontalo.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Andries Kango, M.Ag, memberikan tanggapan positif terhadap undangan kepada Dr. Momy A. Hunowu sebagai dosen kuliah tamu di Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alaudin Makassar.

Dr. Andries Kango mengatakan, “Kami sangat bangga dengan prestasi Dr. Momy A. Hunowu sebagai salah satu dosen kami yang dipercaya sebagai dosen kuliah tamu di UIN Alaudin Makassar. Kami berharap bahwa hal ini dapat menjadi ajang kolaborasi akademik antara kedua institusi, serta memperkuat jaringan akademik dan penelitian antara IAIN Sultan Amai Gorontalo dan UIN Alaudin Makassar.”

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Andries Kango juga mengucapkan terima kasih kepada pihak UIN Alaudin Makassar atas undangan yang diberikan kepada Dr. Momy A. Hunowu. Ia berharap agar hubungan antara kedua institusi terus ditingkatkan melalui kegiatan akademik dan penelitian yang saling mendukung. (AKF)

Kajur Sosiologi Agama Sambut Baik Mubes HMJ

Gorontalo, 6 Maret 2023 – Kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) HMJ Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo mendapatkan tanggapan positif dari Ketua Jurusan Sosiologi Agama, Dr. Momy A Hunowu, M.Si.

Dalam pernyataannya, Dr. Momy A Hunowu, M.Si. mengatakan, “Saya merasa senang dan bangga melihat semangat dan partisipasi yang tinggi dari seluruh anggota HMJ dalam kegiatan Mubes ini. Saya berharap semangat dan semakin aktifnya kegiatan HMJ Sosiologi Agama dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan oleh pengurus baru.”

Dr. Momy A Hunowu, M.Si. juga menambahkan, “Saya berharap pengurus baru dapat bekerja dengan semangat yang sama untuk mengembangkan HMJ Sosiologi Agama ke arah yang lebih baik lagi. Saya yakin, dengan semangat gotong royong dan kerjasama, pengurus baru dapat menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi kampus dan masyarakat.”

Selain memberikan harapan pada pengurus baru, Dr. Momy A Hunowu, M.Si. juga mengucapkan terima kasih pada kepada pengurus HMJ lama, Muh. Niswan, atas kontribusinya selama memimpin HMJ Sosiologi Agama. “Kepada Muh. Niswan, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan dedikasinya selama memimpin HMJ Sosiologi Agama. Semoga sukses selalu untuk masa depannya,” ujarnya.

Dengan dukungan dari pimpinan jurusan, diharapkan pengurus baru HMJ Sosiologi Agama dapat menghasilkan karya-karya yang lebih baik dan berkontribusi positif bagi kampus dan masyarakat. (HMJ)

Academics from the Department of Sociology of Religion Conduct Drug Abuse Education at School

Academics from the Department of Sociology of Religion Conduct Drug Abuse Education at School

Andi Oktami Dewi Artha Ayu Purnama, M.Si, a lecturer at the Department of Sociology of Religion at IAIN Sultan Amai Gorontalo, together with her students Desriyanti Abdullah and Parman Kaani, conducted a community service activity at SDN 3 Pulubala, Kab. Gorontalo. The activity was in the form of drug abuse education with the theme “School Shines (Clean from Drugs)” in collaboration with the National Narcotics Agency of Gorontalo Regency (04/3/2023).

During the activity, Andi Oktami delivered a lecture on the dangers of drug abuse and its impact on individuals and society. She also discussed ways to prevent drug abuse, including building positive relationships with family and friends, finding hobbies and interests, and seeking professional help if necessary.

Desriyanti Abdullah, one of the participating students, stated, “This activity has been an eye-opener for me, as I now understand the severe consequences of drug abuse. I hope that our efforts can help create a drug-free and safer environment for the children at SDN 3 Pulubala.”

The activity received positive feedback from the school principal, who expressed gratitude towards Andi Oktami and her team for their dedication to educating the community about the dangers of drug abuse. (AKF)