Resti Lamusu, mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan NIM 163082016 berhasil menuntaskan ujian akhir sarjana pada 28 Januari 2021. Skripsinya berjudul “KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA: STUDI KASUS RELASI SUAMI ISTRI DI DESA NUNUK KECAMATAN PINOLOSIAN” berhasil dipertahankan di depan tim penguji yang terdiri dari Dr Andries kango S.Ag, M.Ag; Ferlin Anwar S.Ag M.Fil.I; adapun merangkap penguji sekaligus pembimbing 1 dan 2 masing-masing adalah Indra Dewi Sery Yusuf, S.Ag M.Pd dan Momy A Hunowu S.Ag M.Si.
Paisal Usman, S.Sos
Paisal Usman, mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan NIM 163082055 berhasil menuntaskan ujian akhir sarjana pada 5 Februari 2021. Skripsinya berjudul “STRATEGI PEWARISAN TRADISI DIKILI DI KALANGAN GENERASI MILENIAL” berhasil dipertahankan di depan tim penguji yang terdiri dari Dr. Ilyas Daud,M.S.I; Momy A. Hunowu, S.Ag, M.Si; adapun merangkap penguji sekaligus pembimbing 1 dan 2 masing-masing adalah Dr. Mashadi, S.Ag, M.Si dan Ferlin Anwar,M.Fil.I.
Andika Eka Putra Ahmad, S.Sos
Andika Eka Putra Ahmad, mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan NIM 163082020 berhasil menuntaskan ujian akhir sarjana pada 14 Januari 2021. Skripsinya berjudul “MARRIED BY ACCIDENT: STUDI KASUS DI DESA BAKIDA, KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN” berhasil dipertahankan di depan tim penguji yang terdiri dari Indra Dewi Sery Yusuf S.Ag, M.Pd; Dr. Andries Kango, M.Ag; merangkap penguji sekaligus pembimbing 1 dan 2 masing-masing adalah Dr. Kamaruddin Mustamin, M.Fil.I dan Naufal Ilma, S.Sos, M.Si.
Marawat Optimisme di Tengah Pandemi
Oleh: Aluiya S. Kiman
Alumni Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo
Sejak kemunculannya, virus Corona (Covid-19) ini ditanggapi beragam respons di masyarakat, khususnya Indonesia. Sebagian mulai berhati-hati dengan menerapkan pola hidup sehat, tetapi lebih banyak yang tidak peduli dan terkesan meremehkan; bahkan menjadikan virus ini sebagai bahan candaan. Bukan hanya masyarakat biasa, pejabat-pejabat pun banyak yang meremehkan keberadaan virus ini dan tidak melakukan persiapan maupun antisipasi munculnya wabah ini. Bahkan ketika Covid-19 mulai menyebar dengan cepat ke berbagai daerah dan beberapa negara telah menutup akses keluar masuk, pemerintah dan warga masih terkesan santai dan kurang melakukan tidakan pencegahan terhadap virus ini.
Sebenarnya, orang-orang yang bersikap masa bodoh atau tidak peduli dengan kemunculan virus Corona jumlahnya lebih sedikit daripada orang yang peduli dengan pencegahan virus ini. Tetapi, ketidakpedulian mereka itulah yang kemudian mempercepat penyebaran virus. Orang-orang dalam kelompok ini biasanya adalah orang-orang yang merasa dirinya kebal dan menganggap bahwa sains tidak sepenuhnya benar.
Ketidakpastian, kebingungan, dan keadaan darurat yang diakibatkan oleh virus Corona dapat menjadi problem bagi banyak orang. Ketidakpastian dalam mengetahui kapan wabah akan berakhir membuat banyak pihak terutama golongan menengah ke bawah bingung dan cemas memikirkan nasib mereka. Untuk mengurangi kecemasan di masyarakat, sudah sepatutnya kita melakukan berbagai hal untuk terus merawat optimisme masyarakat di tengah pandemi ini. Masyarakat yang masih mampu mencukupi kebutuhan hidupnya banyak yang meningkatkan kepeduliannya dengan berkontribusi untuk membantu mereka yang kurang mampu dengan cara melakukan penggalangan dana, melakukan donasi dan lain sebagainya, guna memperkuat rasa kepedulian antar sesama warga masyarakat indonesia. Serta yang terpenting adalah mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertahanan diri sendiri dalam hal menjaga kesehatan. (***)
