Tentang Elektabilitas Anas Urbaningrum, Begini Tanggapan Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo
Akademisi dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra Muhammad Santoso, mengkritisi penyambutan yang dilakukan terhadap Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang baru saja keluar dari penjara. Anas sebelumnya didakwa terlibat dalam kasus mega korupsi Hambalang. Meskipun begitu, para pendukung Anas menyambutnya dengan gegap gempita seolah-olah dia seorang pahlawan. Bahkan dalam survei SMRC April 2023 ini, elektabilitas Anas Urbaningrum menempati posisi di atas Ketua DPR RI Puan Maharani sebagai bakal calon presiden 2024.
Menanggapi hasil survei tersebut Eka Putra Santoso menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan pertanyaan destruktif tentang survei tersebut sebagai pesanan. Eka lebih memilih untuk melihat fenomena ini dari teori Moral Foundation yang dijelaskan oleh Jonatan Haidt dalam bukunya yang berjudul “The Righteous Mind” yang terbit pada tahun 2012.
Menurut teori Moral Foundation, manusia cenderung hidup dalam kelompok dan menilai moral dari segi estetika bukan prinsip. Selain itu, mereka cenderung mempertahankan nalar kolektif kelompok dan argumen yang dibahas bukan untuk mencari kebenaran. Dalam kasus Anas Urbaningrum, ia terindikasi mencoba membuat sketsa rasa keadilan yang cacat sehingga mempengaruhi logika publik tentang kasus yang menjeratnya. Hal ini juga ditambah dengan media yang memberitakan sosok Anas secara masif. Terkait dengan penyambutan Anas saat keluar dari penjara dan elektabilitasnya yang cukup tinggi sebagai capres, Eka Putra Santoso melihat gejala masyarakat kita saat ini mengalami masalah dalam hal evaluasi moral dan penilaian terhadap tindakan korupsi. (A
